Kamis, 27 Oktober 2011

SUKU BANGSA DI INDONESIA

Suku Bangsa Aceh
 












Suku Aceh: Suku ini mendiami ujung utara Sumatra. Mereka beragama Islam. Bahasa yang dipertuturkan oleh mereka adalah bahasa Aceh yang masih berkerabat dengan bahasa Mon Khmer (wilayah Champa). Bahasa Aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia barat, cabang dari keluarga bahasa Austronesia.


Upacara Adat Suku Aceh
Turun Tanah

Di daerah ini ada suatu upacar yang dikenal dengan "Peutron Aneuk U Tanoh" atau turun tanah. Artinya, orang tua menurunkan bayi ke tanah. Hal ini dilakukan sewaktu bayi genap berusia 44 hari. Menjelang sang bayi berumur 44 hari itu, sang ibu harus pula melakukan berbagai pantangan. Hal ini dimaksudkan, agar si bayi dapat tumbuh sehat dan baik. Upacara "Turun Tanah" ini dipimpin oleh seorang Ketua Adat dengan menggendong si bayi menuju tangga rumah. Sambil mengucapkan doa-doa dari ayat suci Al-Quran, Ketua Adat menuruni tangga rumah dengan sang bayi tetap dalam gendongannya.

Rumah tradisional Aceh 













Rumah tradisonal suku Aceh dinamakan Rumoh Aceh. Rumah adat ini bertipe rumah panggung dengan 3 bagian utama dan 1 bagian tambahan. Tiga bagian utama dari rumah Aceh yaitu seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah) dan seuramoë likôt (serambi belakang). Sedangkan 1 bagian tambahannya yaitu rumoh dapu (rumah dapur).



Busana Tradisional Aceh
 uranggayo-berkerawang

Pakaian upacara adat gaya Aceh Besar dengan tata warna dan corak-corak sulaman benang emas yang khas. Sulaman khusus pada latar hitam untuk baje meukasah (jas), sarung songket pinggang pria (ija lamgugap) dan wanita (ija pinggang).
Meulaboh dan daerah-daerah sekitarnya seperti Bubon dan Lamnau merupakan pusat-pusat kerajinan sulaman yang amat terkemuka untuk baju adat perkawinan dan terkenal dengan sebutan bajee cop meulaboh.

Detail kopiah mukeutop Aceh Besar dan pinggir krah boy meukasah yang dihiasi dengan corak sulaman emas. Detail hiasan-hiasan dada, pinggang dan tangan pada busana wanita, upacara adat Aceh Besar yang terdiri atas kaluny bahru (leher). taloesusun Ihee (dada) dan taloe keuing (pinggang). Pergelangan tangan dihias oleh yleung pucok reubany (gelang pucuk rebung).


Kesenian di Aceh

Tari Seudati
  1. Tari Ranub Lam Puan: yaitu tarian kehormatan dalam menyambut tamu, tarian ini dimainkan oleh gadis-gadis dengan pakaian adat Aceh sambil menyuguhkan 'Ranub' (Peringkat Sirih) kepada para tamu.
  2. Seudati: Merupakan tarian tradisional yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Arab karena tarian ini bernuansakan agama Islam. Disamping Seudati Agam (laki-laki) juga ada Seudati Inong (Perempuan).
  3. Saman: Tarian ini dibawakan dengan iringan syair-syair berisikan ajaran-ajaran kebajikan. Dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dengan irama serta gerakan tari yang dinamis. Tarian ini terdapat di Aceh Tenggara, tarian serupa namun tidak sama juga terdapat di Aceh Tengah dengan nama 'Didong'.
  4. Ramphak: Merupakan salah satu kreasi tarian tradisional khas Aceh. Tarian ini menggambarkan keberanian jiwa dan keperkasaan wanita-wanita Aceh dalam menghadapi penjajah.
  5. Rapa-i: Tarian ini mungkin satu-satunya kesenian yang memakai alat musik yaitu semacam rebana besar. Rapa-i dimainkan sambil berzikir. Rapa-i Pase bentuknya lebih besar dan ditabuh dengan tangan sambil digantung. Di Aceh Barat terdapat Rapa-i Geleng yang merupakan perpaduan antara Rapa-i dengan Saman
Peralatan dan Senjata di Aceh













Rencong adalah senjata tradisional Aceh, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat lebih dekat bentuknya merupakan kaligrafi tulisan bismillah. Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau ataupun pedang).

Rencong memiliki kemiripan rupa dengan keris. Panjang mata pisau rencong dapat bervariasi dari 10 cm sampai 50 cm. Matau pisau tersebut dapat berlengkung seperti keris, namun dalam banyak rencong, dapat juga lurus seperti pedang. Rencong dimasukkan ke dalam sarung belati yang terbuat dari kayu, gading, tanduk, atau kadang-kadang logam perak atau emas. Dalam pembawaan, rencong diselipkan di antara sabuk di depan perut pemakai.

Rencong memiliki tingkatan; untuk raja atau sultan biasanya sarungnya terbuat dari gading dan mata pisaunya dari emas dan berukirkan sekutip ayat suci dari Alquran agama Islam. Sedangkan rencong-rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau ataupun kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belatinya.

Makanan Khas

Aceh mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain timphan, gulai itik, kari kambing yang lezat, Gulai Pliek U dan meuseukat yang langka. Di samping itu emping melinjo asal kabupaten Pidie yang terkenal gurih, dodol Sabang yang dibuat dengan aneka rasa, ketan durian (boh drien ngon bu leukat), serta bolu manis asal Peukan Bada, Aceh Besar juga bisa jadi andalan bagi Aceh.



Suku Bangsa Sumatera Utara


Suku Batak Karo : Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.


Upacara Adat di Sumatera Utara
Upacara Martutuaek: adalah upacara yang selalu dimulai dengan acara makan dengan memotong babi atau kerbau. Upacara ini dilakukan setelah Datu memilih hari yang baik dengan melihat kalender Batak yang dinamakan Parhalaan. Upacara ini dimulai dengan berjalan beriringan dari rumah menuju ke pancuran yang menandakan ada sebuah bayi baru dimandikan.

Rumah Adat Sumatera Utara









Pada umumnya bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat batak melambangkan "kerbau berdiri tegak". Hal ini lebih jelas lagi dengan menghias pucuk atap dengan kepala kerbau.
Rumah adat Karo kelihatan besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Atapnya terbuat dari ijuk dan biasanya ditambah dengan atap-atap yang lebih kecil berbentuk segitiga yang disebut "ayo-ayo rumah" dan "tersek". Dengan atap menjulang berlapis-lapis itu rumah Karo memiliki bentuk khas dibanding dengan rumah tradisional lainnya yang hanya memiliki satu lapis atap di Sumatera Utara.

Busana Tradisional Sumatera Utara
 









Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak, tidak terlepas dari penggunaan kain ulos, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Kesenian di Sumatera Utara









Tari profan
Perbendaharaan seni tari tradisional di Sumatera Utara meliputi berbagai jenis. Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan.
Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu. Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat. Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan.

Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi. Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan kebangkiung. Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan.

Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Serampang XII.


Senjata Tradisional Sumatera Utara










Tunggal Panaluan merupakan senjata tradisional bagi suku bangsa Batak khususnya Batak Toba. Senjata ini sebenarnya adalah wujud tongkat berukir dan pangkalnya berwujud kepala manusia lengkap dengan rambutnya yang terbuat dari bulu kuda. Masyarakat Batak mengenal senjata ini hanya ada pada Raja Sisingamangaraja, dimana dengan kekuatan ilmu sihirnya tongkat ini dapat diterbangkan sesuai dengan keinginan pemiliknya.

Makanan khas

Makanan Khas di Sumatera Utara sangat bervariasi, tergantung dari daerah tersebut. Saksang dan Babi panggang sangat familiar untuk mereka yang melaksanakan pesta maupun masakan rumah.
Misalkan seperti didaerah Pakpak Dairi, Pelleng adalah makanan khas dengan bumbu yang sangat pedas.
Di tanah Batak sendiri adalah dengke naniarsik yang merupakan ikan yang digulai tanpa menggunakan kelapa. Untuk cita rasa, tanah Batak adalah surga bagi pecinta makanan santan dan pedas juga panas. PASITUAK NATONGGI atau uang beli nira yang manis adalah istilah yang sangat akrab disana, menggambarkan betapa dekatnya Tuak atau nira dengan kehidupan mereka.


 
Suku bangsa di Jawa Tengah





 


Suku Jawa: Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa.  Selain di ketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Osing dan Tengger.


Upacara Adat di Jawa Tengah
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mengenal beberapa jenis upacara selamatan yang sesuai dengan peristiwa atau kejadian alam dalam kehidupan manusia sehari-hari, yakni: selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian dan setelah panen, selamatan berhubung dengan hari-hari dan bulan-bulan besar Islam dan selamatan pada saat-saat tidak tertentu atau yang berkenaan dengan kejadian-kejadian seperti mengadakan perjalanan jauh, menempati rumah kediaman baru, menolak bahaya (ngurawat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul) dan lain-lain.

Sedangkan upacara yang dilakukan berkaitan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa Tengah antara lain:
  • Nyadran: yaitu upacara yang diadakan pada bulan Ruwah (bulan menjelang puasa) yang dilakukan secara bergotong royong membersihkan makam keluarganya dan bersaji.
  • Memetri desa: upacara yang diadakan di desa-desa setelah panen padi, biasanya dipertunjukkan wayang kulit dengan cerita Dewi Sri.
  • Suran: upacara yang diadakan oleh masyarakat Jawa pada malam 1 syuro (tahun barun hijrah) yang diselenggarakan dengan sajian wayang kulit semalam suntuk dan diusahakan pada malam itu tidak tidur.
  • Sedekah laut: upacara yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Cilacap pada setiap bulan Suro untuk memberi persembahan kepada penguasa lau Selatan (Nyai Roro Kidul) yang berupa hasil ternak, pertanian, dan perlengkapan lain yang diletakkan dalam sebuah kapal hias.

Rumah Adat Jawa Tengah











Joglo
Dalam segi arsitektur Provinsi Jawa Tengah memiliki 2 kelompok bangunan yaitu antara yang tradisional dan modern. Arsitektur tradisonal terwujud dalam seni bangunan Jawa asli yang hingga kini masih tetap hidup dan berkembang. Ilmu yang memperlajari seni bangunan oleh masyarakat disebut Ilmu Kalang sedang yang mempelajarinya disebut Wong Kalang. Dalam arsitektur tradisional terdapat 5 macam bangunan pokok yaitu:
1.    Panggagpe: yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi.
2.    Kampung: yaitu bangunan dengan atap dua belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya.
3.    Limasan: yaitu bangunan dengan atap empat belah sisi, sebuah bubungan ditengahnya.
4.    Joglo atau Tikelan: yaitu bangunan dengan saka guru dan atap empat belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya.
5.    Tajug: yaitu bangunan dengan saka guru atap empat belah sisi, tanpa bubungan dan meruncing.

Busana Tradisional Jawa tengah














Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.

Kesenian di Jawa Tengah










Tari Srimpi. Tarian tersebut bersifat klasik yang bernafaskan suasana feudal keistanaan dengan gerakan yang lembut, agung dan menawan. Tari ini menggambarkan perang tanding antara dua wanita, namun lazimnya demi keindahan diperankan oleh empat penari. Tarian ini diperkirakan mulai ada sejak agama Islam masuk ke Indonesia, hal ini bisa dilihat dari sebagian besar isinya yang menggambarkan peristiwa zaman Indonesia Islam.

Senjata Tradisional Jawa Tengah











Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit.

Makanan khas Jawa Tengah

Gudeg, nasi grambyang dll




Suku bangsa di Riau









Suku Melayu merupakan suku mayoritas di provinsi ini dan terdapat pada setiap kabupaten dan kota, suku Jawa dan Sunda pada umumnya banyak berada pada kawasan transmigran. Sementara etnis Minangkabau umumnya menjadi pedagang dan banyak bermukim pada kawasan perkotaan seperti Pekanbaru, Dumai, serta terdapat juga di Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu. Begitu juga orang Tionghoa pada umumnya sama dengan etnis Minangkabau yaitu menjadi pedagang dan bermukim pada kawasan perkotaan serta banyak juga terdapat pada kawasan pesisir timur seperti di Bagansiapiapi, Selatpanjang, Pulau Rupat dan Bengkalis. Suku Bugis umumnya banyak terdapat di kabupaten Indragiri Hilir, terutama di Tembilahan.

Selain itu di provinsi ini masih terdapat sekumpulan masyarakat terasing di kawasan pedalaman dan bantaran sungai seperti Orang Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut.

Orang Sakai: Orang Sakai merupakan sekumpulan masyarakat yang terasing dan hidup masih secara tradisional dan nomaden pada suatu kawasan di pulau Sumatera, Indonesia.

Upacara Adat di Riau
Provinsi Riau diketahui memiliki berbagai wisata budaya maupun keagamaan. Beberapa contoh wisata budaya yang terkenal dari daerah ini adalah Upacara Bakar Tongkang.
Ritual Bakar Tongkang merupakan kisah pelayaran masyarakat keturunan Tionghoa yang melarikan diri dari si penguasa Siam di daratan Indo China pada abad ke-19. Didalam kapal yang di pimpin Ang Mie Kui, terdapat patung Dewa Kie Ong Ya dan lima dewa, dimana panglimanya disebut Taisun Ong Ya. Patung -patung dewa ini mereka bawa dari tanah Tiongkok, dan menurut keyakinan mereka bahwa dewa tersebut akan memberikan keselamatan dalam pelayaran, hingga akhirnya mereka menetap di Bagansiapiapi.

Untuk menghormati dan mensyukuri kemakmuran dan keselamatan yang mereka peroleh dari hasil laut sebagai mata pencaharian utama masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi, maka mereka membakar wangkang (tongkang) yang dilakukan setiap tahun. Sedangkan prosesi sembahyang dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 bulan 5 tahun Imlek / penanggalan China.


Rumah Adat Riau











Rumah orang melayu Riau dibangun di atas tiang-tiang penyangga untuk menghindari masuknya air serta menjaga agar hewan-hewan ternak tidak masuk ke dalam rumah. Pada rumah tinggal (yang disebut rumah bubung melayu, atau rumah belah bubung, atau rumah rabung), kolong rumah sering dipakai sebagai tempat bertukang di samping sebagai tempat penyimpanan alat-alat pertanian dan menangkap ikan. Kadang-kadang kolong rumah juga dapat dimanfaatkan untuk tempat bermain anak-anak.

Selain itu dikenal jenis-jenis rumah yang namanya didasarkan pada bentuk atapnya. Rumah yang beratap curam disebut ‘lipat pandan’, yang beratap agak landai disebut ‘lipat kajang’, sedangkan rumah dengan atap bersusun disebut disebut ‘atap layar atau ampar labu’. Rumah ini didirikan di atas tiang setinggi 1,50-2,40 meter, dan terdiri atas ruangan-ruangan yang disebut Selasar (ruang depan), rumah induk, telo dan penanggah.

Selasar merupakan ruangan paling depan, biasanya berlantai lebih rendah daripada rumah induk dan dindingnya separuh terbuka. Selasar yang terpisah dari rumah induk dan letaknya menjorok jauh ke muka disebut Selasar Luar, yang bersambung dengan rumah induk tetapi tetapi lantainya lebih rendah dari lantai rumah induk disebut Selasar Jatuh, sedangkan Selasar yang bersatu dengan rumah induk disebut Selsar Dalam, yang fungsinya untuk menerima tamu-tamu terhormat. Selain itu terdapat Selasar yang terletak disamping rumah induk dan menempel pada dinding dari depan ke belakang, yang disebut Selasar Gajah Menyusur. Ruangan ini digunakan untuk tempat bermain anak-anak atau tempat menerima tamu-tamu biasa dalam upacara perkawinan.

Busana Tradisional Riau
 










Untuk menghadiri acara formal, kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung, anting-anting, gelang tangan, cincin yang terbuat dari emas. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa, namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Dalam pandangan masyarakat Riau, semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. Berbeda dengan busana kaum pria, kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak, meliputi juga kelengkapan kepala. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi, sanggul biasa atau sanggul dua, tusuk sanggul, kembang goyang, sepit rambut, jurai. Untuk bagian dada, badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang, sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending, dan gelang kaki untuk bagian bawah.
Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina, atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana, baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria, yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan.

Kesenian Riau


 

 

 

Tari Melemang

Tari melemang konon telah ada sejak zaman kerajaan Bentan. Ini artinya bahwa tarian tersebut sudah dikenal sejak abad ke-12. Konon, pada waktu itu, melemang bukan termasuk tarian konsumsi rakyat, tetapi tarian istana. Para penarinya pun bukan rakyat biasa, tetapi para dayang yang berasal dari sekitar istana, termasuk daerah yang disebut sebagai Tanjungpisau Penaga. Tarian ini dipersembahkan ketika Sang Raja sedang beristirahat

Masakan Khas Riau
Gulai Belacan



Suku bangsa di Kalimantan Selatan












Provinsi Kalimantan Selatan cukup banyak didiami oleh berbagai macam suku, yang paling banyak mendiami kawasan tersebut adalah suku Banjar dimana dapat dijumpai di banjarmasin sampai Martapura.

Suku Banjar: Bangsa Banjar (bahasa Banjar: Urang Banjar) atau Oloh Masih adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku Banjar terkadang juga disebut Melayu Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan.

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio.

Upacara Adat di Kalimantan Selatan
Upacara Adat Mandi Tujuh Bulan: Salah satu tradisi suku Banjar, yang dilakukan sebagai ungkapan syukur dan pengharapan akan lahirnya seorang bayi. Lahirnya seorang bayi umumnya diakui sebagai karunia Tuhan yang amat berharga. Oleh karena itu kedatangannya senantiasa ditunggu dengan penuh harap dan doa, semoga sang bayi lahir dengan selamat dan kelak menjadi manusia yang bertakwa pada Allah SWT dan berbakti pada kedua orang tuanya. Sewaktu kandungan seorang ibu telah berumur 7 bulan, upacara mandi 7 bulan ini dilaksanakan. Inti upacara ini adalah memandikan sang calon ibu dengan menyiramkan air bercampur bunga 7 macam.
Upacara Adat Ba’ayun Mulud: Kelahiran merupakan salah satu saat penting dalam kehidupan manusia. Biasanya diikuti dengan suatu upacara khusus. Upacara adat Ba’ayun Mulud merupakan upacara di sekitar kelahiran yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Banjarmasin. Upacara adat ini adalah upacara meletakkan bayi yang baru berusia 40 hari di atas ayunan.
Rumah Adat Kalimantan Selatan














Rumah adat di Kalimantan Selatan ada beberapa macam, diantaranya ada rumah suku Banjar yang disebut Rumah Bubungan Tinggi dan rumah dari suku Dayak Bukit yang dikenal dengan sebutan Balai.

Rumah Banjar: adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain memiliki perlambang, memiliki penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.

Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Pada tahun 1871 pemerintah kota Banjarmasin mengeluarkan segel izin pembuatan Rumah Bubungan Tinggi di kampung Sungai Jingah yang merupakan rumah tertua yang pernah dikeluarkan segelnya.
Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan)

Busana Tradisional Kalimantan Selatan


Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi, jenis dan pemakaiannya. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan, dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan.
  • Lampin; merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Pada masa lalu, lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang.
  • Salawar; adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Model baju, yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga, yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria.
  • Baju Taluk Balanga; adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang.
  • Baju Kubaya; pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Jenis pakaian ini bermacam-macam. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang.
  • Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebaikan.

Kesenian di Kalimantan Selatan
 











Tari Kanjar: Wujud tarian ini berupa gerakan berputar-putar mengelilingi suatu poros berupa altar tempat meletakan sesaji (korban). Jadi mirip dengan tarian upacara ritual pada suku Dayak rumpun Ot Danum lainnya, misalnya pada suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. Tarian ini dilakukan para lelaki, sedangkan tarian serupa oleh wanita disebut babangsai.

Senjata Tradisional Kalimantan Selatan











Mandau

Masyarakat Kalimantan Selatan mengenal beberapa macam senjata tradisional yang selain berfungsi sebagai alat bela diri, sebagian besar digunakan juga sebagai alat-alat produksi. Beberapa di antaranya adalah Mandau, parang, sarapang, dan riwayang.

Makanan dan Minuman

Setiap kawasan di Kalimantan Selatan, memiliki makanan sebagai ciri-ciri khas daerah, seperti daerah Hulu Sungai Selatan dengan dodol kandangan-nya, Barabai dengan apam dan kacang jaruk, Amuntai dengan kuliner dari daging itik, dan Binuang dengan olahan pisang sale yang disebut rimpi.



Suku bangsa di Sumatera Barat








Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku Minangkabau. Di daerah Pasaman selain suku Minang berdiam pula suku Batak dan suku Mandailing. Suku Mentawai terdapat di Kepulauan Mentawai. Di beberapa kota di Sumatera Barat terutama kota Padang terdapat etnis Tionghoa, Tamil dan suku Nias dan di beberapa daerah transmigrasi (Sitiung, Lunang Silaut, Padang Gelugur dan lainnya) terdapat pula suku Jawa.
Minangkabau: Minang atau Minangkabau adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota propinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan Urang Awak (bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri).

Upacara Adat di Sumatera Barat   1. Upacara Sepanjang Kehidupan Manusia
Upacara sepanjang kehidupan manusia ini dapat pula dibedakan sbb:
  1. Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan

  2. Upacara Karek Pusek (Kerat pusat)

  3. Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)

  4. Upacara Sunat Rasul

  5. Mengaji di Surau

  6. Tamat Kaji (khatam Qur’an)

2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah, membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat. Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat.
3. Upacara Selamatan
Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam masuk ke Minangkabau. Doa selamat ini untuk menyatakan syukur atau doa selamat agar mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Rumah Adat di Sumatera Barat




Rumah Gadang: Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjung.

Pada umumnya Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada bagian depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet pada dinding.

Uma: Uma adalah nama untuk rumah tradisional suku Mentawai yang merupakan rumah adat dan banyak di jumpai di kabupaten Kepulauan Mentawai, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Uma ini dihuni oleh secara bersama oleh lima sampai sepuluh keluarga. Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.


Busana Tradisional Sumatera Barat

Pengantin Padang
Di Sumatra barat, terdapat beberapa variasi busana adat pernikahan yang dipakai oleh pasangan mempelai.Perbedaan ini berdasarkan pembagian beberapa adat nagari di Sumatra barat.
Busana pengantin kota Padang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan busana daerah lain di Minangkabau.dalam sejarah nya selain oleh budaya Minangkabau, busana pengantin kota Padang juga dipengaruhi oleh kebudayaan busana negara-negara Eropa dan Tiongkok.Hal ini terlihat dari segi corak dan pemilihan warna.

Kesenian di Sumatera Barat
Tari Payaung Tari Budaya Sumatera Barat
Tari Payung
Tari Payung: Menggambarkan kesenangan dan kegembiraan muda - mudi yang diiringi dengan musik orkes melayu, akordion, biola, gitar, gendang, dengan jumlah penari 6 orang (3 pria dan 3 wanita ).

Tari Piring: Tari Piring menggambarkan keanggunan, keramahtamahan dan lemah lembut kaum wanita Minangkabau.

Tari Indang: Tari ini diikuti dengan anggota yang cukup banyak sehingga memerlukan tempat yang luas karena ditarikan dengan cara duduk sambil memegang gandang kecil.

Tari Mulo Pado: Tari ini berasal dari Nagari Padang Magek Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar, yang diringi dengan gandang, talempong pacik, saluang. Group Tari Mulo Pado ditampilkan sebagai hiburan ditengah-tengah masyarakat terutama dalam acara helat anak nagari.

Senjata Tradisional

 











Senjata tradisional Sumatera Barat adalah Keris. Keris biasanya dipakai oleh kaum laki-laki dan diletakkan di sebelah depan, dan umumnya dipakai oleh para penghulu terutama dalam setiap acara resmi ada terutama dalam acara malewa gala atau pengukuhan gelar, selain itu juga biasa dipakai oleh para mempelai pria dalam acara majlis perkawinan yang masyarakat setempat menyebutnya baralek. Berbagai jenis senjata juga pernah digunakan seperti tombak, pedang panjang, panah, sumpit dan sebagainya

Makanan dan Minuman

Dalam dunia kuliner, Sumatera Barat terkenal dengan masakan Padang dan restoran Padang. Masakan Padang terkenal dengan citarasa yang pedas, serta dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri[26].
Beberapa contoh makanan dari Sumatera Barat yang sangat populer adalah Rendang, Sate Padang, Dendeng Balado, Itiak Lado Mudo, Soto Padang, dan Bubur Kampiun.
Selain itu, Sumatera Barat juga memiliki ratusan resep, seperti kipang kacang, bareh randang, dakak-dakak, rakik maco, pinyaram, dan Karupuak Balado.
Selain itu Sumatera Barat, juga menghasilkan Kopi Luwak (Kopi Cirik Musang) yang berasal dari wilayah Batang Palupuah, Bukittinggi.
Setiap kawasan di Sumatera Barat, memiliki makanan sebagai ciri khas daerah, yang biasa dijadikan sebagai buah tangan (oleh-oleh) misalnya: kota Padang terkenal dengan bengkuang, kota Padangpanjang terkenal dengan pergedel jaguang, kota Bukittinggi dengan karupuak sanjai, kota Payakumbuh dengan galamai.

 

Suku bangsa di Papua


 

 

 

 

 

Asmat: Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.
Seorang dari suku Asmat tengah membuat ukiran kayu

Dani: Suku Dani adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Wamena, Papua, Indonesia. Suku-suku lain yang terdapat di daerah ini antara lain Yali dan Lani. Suku Yali adalah salah satu suku yang mendiami bagian selatan di antara perbatasan Wamena dan Merauke, sedangkan suku Lani mendiami bagian sebelah barat dari suku Dani. Ketiga suku ini memiliki ciri khas masing-masing baik dari segi budaya, adat istiadat, dan bahasa.

Amungme: Suku Amungme adalah kelompok Melanesia terdiri dari 13.000 orang yang tinggal di dataran tinggi provinsi Irian Jaya Indonesia.

Mereka menjalankan pertanian berpindah, menambahnya dengan berburu dan mengumpul. Amungme sangat terikat kepada tanah leluhur mereka dan menganggap sekitar gunung suci. Gunung yang dijadikan pusat penambangan emas dan tembaga oleh PT. Freeport Indonesia merupakan gunung suci yang di agung-agungkan oleh masyarakat Amungme, dengan nama Nemang Kawi. Nemang artinya panah dan kawi artinya suci. Nemang Kawi artinya panah yang suci (bebas perang] perdamaian. Wilayah Amungme di sebut Amungsa.

Kamoro: Suku Kamoro adalah salah satu suku yang berada di Papua, tepatnya di wilayah pesisir pantai Kabupaten Mimika Agats sampai Jita. Suku Kamoro terkenal pandai berburu, dan juga terkenal akan ukiran, nyanyian, topeng-topeng roh dan tariannya. Suku Kamoro juga memiliki ritual dimana dibuat gendang yang menggunakan darah.

Upacara Adat Papua

Masyarakat pedalaman Papua mempunyai tradisi pelik untuk menyampaikan ucapan syukur kepada Maha Pencipta. Tradisi mereka ini dipanggil pesta bakar batu iaitu satu upacara membakar timbunan batu di atas daun pisang dengan kaum lelaki mengenakan pakaian tradisi mereka iaitu koteka, dan noken dan tas moge untuk kaum wanita.
Pesta ini berasal dari suku pergunungan kawasan Papua. Apa yang pelik dan uniknya dengan tradisi ini ialah ketika proses memasak makanan, ia haruslah dimasak dengan batu panas terlebih dahulu. Terdapat tiga peringkat memasak dengan batu ini iaitu persiapan, membakar babi dan makan bersama.

Peringkat persiapan dilakukan dengan setiap suku perlu menyerahkan babi sebagai persembahan. Bagi peserta pesta yang lain, mereka harus berkumpul mengelilingi tempat upacara sambil menari-nari.
 


Rumah Adat Papua

 

 

 

 

 

Rumah adat daerah Papua, suku Dani adalah Honai, Rumah tersebut terdiri dari dua lantai terdiri dua lantai, lantai pertama sebagai tempaat tidur dan lantai dua untuk tempat bersantai, dan tempat makan. Hunai berbentuk jamur dengan ketinggian sekitar 4 meter.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar